Hellloooo
2 Minggu terakhir saya memasuki salah satu mata kuliah psikodiagnostik yang paling sulit, yakni alat tes Rorschach. Saya dan teman-teman mendapat 4 buku sebagai bahan mata kuliah RO (Rorschach), bahkan Retha memberikan 2 diktat RO yang ia dapat sewaktu S1, sehingga total bahan bacaan yang ada 4 buku + 2 diktat. RO hanya dipelajari selama 4 hari dan hari ke-5 akan diujiankan. Dari sederet alat tes yang sebelumnya saya pelajari (Tidi, WB, MMPI, TAT, Hand Test, SSCT) hanya RO yang diujiankan.
Bahannya sangat banyak, selain itu RO merupakan alat tes yang kompleks. Saya kewalahan bahkan saat ujian melakukan kesalahan fatal. Skoring telah saya pelajaridengan hati-hati, sehingga pada saat ujian bagian I, saya yakin dalam menjawab. Akan tetapi setelah lembar ujian dikumpul, baru menyadari bahwa saya salah persepsi mengenai satu aspek kecil (mengenai skoring originalitas, red). Fatal, hampir sebagian besar soal bersalahan hanya karena mispersepsi originalitas, sedangkan dari aspek lokasi, determinan, level bentuk sebagian besar tidak terdapat masalah.
Kesalahan fatal kedua terjadi ketika ujian tes RO "babak ke-2", saya tidak sempat menyelesaikan kasus essay yang diberikan. Saya bahkan mendapat teguran dari dosen. Saya kecewa pada kinerja saya hari itu. Saat membahas ujian dengan Kak Dewi dan Mbak Dessy, saya hampir menangis sehingga saya segera menyudahi pembicaraan. Ujian RO kemarin memang mengguncang satu kelas, hampir semua teman menyatakan tidak puas atau tidak yakin dengan hasil tes RO yang telah mereka kerjakan.Di pikiran saya, kenapa hal itu bisa terjadi? Entahla, saya tidak waspada saat itu.
Meski jadwal yang ditetapkan 5 hari, RO belum usai. Masih ada 2 laporan kasus yang harus diselesaikan. Beberapa hari yang lalu saya dan kelompok kerja (Retha, Nia, Vivi, Rangga) menghadap dosen untuk menyamakan persepsi mengenai skoring. Kami berdiskusi dengan dosen, dan saya merasa lebih baik karena saya dapat berpartisipasi dalam diskusi tersebut. Setidaknya kalaupun nilai saya kenapa-kenapa, hal tersebut bukan terjadi begitu saja karena tidak ada niat atau usaha dari saya. Setidaknya jika saya gagal karena saya sudah berusaha.
Aron selalu menjadi pendengar terbaik. Dia mendengarkan dan menenangkan saya. Setelah berdiskusi dengannya dan mendengarkan nasehatnya, perasaan saya jauh lebih baik, lega. Saya bersyukur ada pendengar seperti Aron dan mempersiapkan mental apapun hasilnya nanti.
Rorschach, Watchmen Version.


No comments:
Post a Comment